{"id":1025,"date":"2023-11-04T01:47:00","date_gmt":"2023-11-04T01:47:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ppkg.lppm.uns.ac.id\/?p=1025"},"modified":"2023-12-16T06:48:00","modified_gmt":"2023-12-16T06:48:00","slug":"fatherless-country","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ppkg.lppm.uns.ac.id\/?p=1025","title":{"rendered":"Fatherless Country"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fatherless country merupakan negara yang masyarakatnya memiliki kecenderungan tidak merasakan keberadaan dan keterlibatan figur ayah dalam kehidupan dan pengasuhan anak, baik secara fisik maupun psikologis. Fatherless tidak hanya dialami oleh anak yatim saja. Selama mereka memiliki figur ayah yang dihadirkan dari kakek atau om, maka figur \u2018ayah\u2019 ini bisa tergantikan. Faktor penyebab fenomena fatherless\u00a0adalah alasan ekonomi, sosial, dan budaya.\u00a0Salah satunya\u00a0adalah adanya budaya patriarki yang masih melekat di masyarakat Indonesia.\u00a0Budaya patriarki meyakini bahwa laki-laki bertanggung jawab pada urusan nafkah. Sedangkan untuk urusan domestik dan mengurus anak adalah tanggung jawab perempuan.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/ppkg.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/fatherless-country-PPKG-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1026\" style=\"width:354px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/ppkg.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/fatherless-country-PPKG-1024x1024.png 1024w, https:\/\/ppkg.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/fatherless-country-PPKG-300x300.png 300w, https:\/\/ppkg.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/fatherless-country-PPKG-150x150.png 150w, https:\/\/ppkg.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/fatherless-country-PPKG-768x768.png 768w, https:\/\/ppkg.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/fatherless-country-PPKG.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anak yang mengalami fatherless akan merasakan dampaknya hingga dewasa, terutama secara psikologis. Beberapa dampak diantaranya rendahnya penghargaan atas diri sendiri atau self-esteem; merasa minder atau tidak percaya diri; merasa takut, cemas, dan tidak bahagia; merasa tidak aman secara fisik dan emosional; memiliki kemampuan akademik yang buruk; memiliki hubungan yang rumit dengan pasangan; masalah perilaku dan gangguan kejiwaan; dan berpotensi melakukan kejahatan atau kenakalan remaja.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fatherless country merupakan negara yang masyarakatnya memiliki kecenderungan tidak merasakan keberadaan dan keterlibatan figur ayah dalam kehidupan dan pengasuhan anak, baik secara fisik maupun psikologis. Fatherless tidak hanya dialami oleh anak yatim saja. Selama mereka memiliki figur ayah yang dihadirkan dari kakek atau om, maka figur \u2018ayah\u2019 ini bisa tergantikan. Faktor penyebab fenomena fatherless\u00a0adalah alasan ekonomi, sosial, dan budaya.\u00a0Salah satunya\u00a0adalah adanya budaya patriarki yang masih melekat di masyarakat Indonesia.\u00a0Budaya patriarki meyakini bahwa laki-laki bertanggung jawab pada urusan nafkah. Sedangkan untuk urusan domestik dan mengurus anak adalah tanggung jawab perempuan. Anak yang mengalami fatherless akan merasakan dampaknya hingga dewasa, terutama secara psikologis. Beberapa dampak diantaranya rendahnya penghargaan atas diri sendiri atau self-esteem; merasa minder atau tidak percaya diri; merasa takut, cemas, dan tidak bahagia; merasa tidak aman secara fisik dan emosional; memiliki kemampuan akademik yang buruk; memiliki hubungan yang rumit dengan pasangan; masalah perilaku dan gangguan kejiwaan; dan berpotensi melakukan kejahatan atau kenakalan remaja.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1025","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ppkg.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1025","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ppkg.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ppkg.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppkg.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppkg.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1025"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ppkg.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1025\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1027,"href":"https:\/\/ppkg.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1025\/revisions\/1027"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ppkg.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1025"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppkg.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1025"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppkg.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1025"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}